Dongeng Anak Kerang Inggris Dan Indonesia

Anak Kerang
Anak Kerang

TEXT NARATIF Anak Kerang
Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek. “Anakku,” kata sang ibu sambil bercucuran air mata, “Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu.” 
Si ibu terdiam, sejenak, “Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat”, kata ibunya dengan sendu dan lembut.
Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar. Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara, air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.





Children Shellfish
One day a child shells on the sea floor complained and complained to her mother because a grain of sand sharply into the red and flabby body. "My son," the mother said as she tearfully, "God does not give us, the people of shells, a hand too, so she can not help you."
The mother was silent, for a moment, "It was so painful, I know my son. But accept it as a natural destiny. Courage.Do not get too frisky again. Muster your spirit against aches and pains are biting. Balutlah sand it with sap your stomach. That's all you can do, "said his mother with a mellow and soft.
Children shells was doing her mother's advice. No result, but the pain is not absurdly tall.Sometimes in the midst of pain, he doubted his mother's advice. With tears he survived, many years. But without realizing a pearl begins to form in the meat. Increasingly refined.The pain was diminishing. And the greater the longer the pearl. The pain becomes even more reasonable. Finally, after so many years, a large pearl, shiny intact, and expensive was formed. Misery turned into pearls, her tears turned into very valuable. She now, as a result of many years of suffering, more valuable than a million other shellfish eaten only as a clam stew at the roadside.




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Dongeng Anak Kerang Inggris Dan Indonesia"

Post a Comment